Penulis: Onie Surya
Editor: Aan Anugrah
“Keadaan datang dan pergi seperti udara yang bergerak. Kadang ia hadir sebagai sesuatu yang menyenangkan, kadang sebagai sesuatu yang tidak kita harapkan. Ia dapat muncul sebagai keuntungan atau kerugian, keberhasilan atau kegagalan, pertemuan atau perpisahan. Apa pun bentuknya, perubahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan ini.”
Pandangan umum, ketika sesuatu datang sesuai keinginan, kita menyebutnya baik. Sebaliknya, ketika kenyataan tidak sejalan dengan harapan, kita menganggapnya buruk.
Penilaian semacam ini begitu umum sehingga jarang dipertanyakan. Kita menerimanya sebagai kebenaran tanpa pernah menelusuri dari mana ia berasal.
Saya pun pernah hidup dalam cara pandang yang sama. Saya merasa bahagia ketika memperoleh apa yang saya harapkan, dan menderita ketika kenyataan bergerak ke arah yang berbeda. Tanpa sadar, saya menjadi bimbang.
Berjalannya hidup, ada pertanyaan yang perlahan mengubah cara saya memandang hidup:
- Benarkah segala yang kita sebut baik memang sepenuhnya baik?
- Benarkah segala yang kita sebut buruk memang sepenuhnya buruk?
- Apakah keadaan memiliki makna tertentu sebelum kita menafsirkannya?
- Ataukah makna itu lahir dari cara kita memandang dan meresponsnya?
Mari kita perhatikan lebih jernih.
Berapa banyak hal yang terjadi persis seperti yang kita inginkan? Dan berapa banyak yang terjadi di luar rencana kita?
Apakah arah hidup kebanyakan sesuai dengan rencana, atau bahkan mengarah pada hal-hal yang tidak pernah kita rancang sebelumnya.
Ada yang lebih menarik dari itu: Ketika satu keinginan terpenuhi, perhatian kita sering tertuju hanya pada apa yang berhasil kita peroleh. Kita lupa melihat segala sesuatu yang datang bersamanya.
Sebagai contoh, seorang pedagang mendapatkan barang dagangannya laku terjual. Ia merasa puas atas pencapaian itu. Namun pada saat yang sama, ia juga memperoleh kenalan baru, pengalaman baru, wawasan baru, bahkan sekadar percakapan hangat dari konsumen yang mewarnai harinya. Semua itu hadir bersamaan, tetapi sering kali tak terlihat karena fokusnya hanya pada jualan.
Begitu pula ketika seseorang menghadapi masalah. Perhatiannya terserap oleh kesulitannya. Dalam pergumulannya ia bergumam, “gelap sudah kehidupanku”. Padahal matahari sedang terik-teriknya. Dari sana ia akan kehilangan kemampuan untuk melihat hal-hal lain yang hadir dalam hidupnya. Udara yang ia hirup, matahari yang bersinar, kesegaran air, kasih sayang keluarga, dan kesehatan.
Dari sinilah saya mulai memahami bahwa dalam setiap kesempitan ada sesuatu yang terlewatkan. Dalam setiap keadaan terdapat begitu banyak kemungkinan yang hadir secara bersamaan. Akan tetapi, pikiran kita memilih satu di antaranya, lalu menganggapnya sebagai seluruh kenyataan.
Bayangkan sebuah ruang yang sangat luas, dipenuhi oleh berbagai kemungkinan. Setiap peristiwa hanyalah satu titik di dalam ruang tersebut. Sedang persepsi kita bekerja seperti lampu sorot yang hanya menerangi sebagian, disitulah kita memusatkan perhatian hingga tampak seperti nyata dan paling penting, sementara yang lain terabaikan.
Bukan karena kemungkinan-kemungkinan itu hilang, melainkan karena kita tidak melihatnya. Akibatnya, kenyataan yang luas menjadi sempit. Kehidupan yang kaya menjadi terbatas. Bukan karena kehidupan berubah, tetapi karena cara pandang kita mengecilkan cakrawalanya.
Dari pemahaman inilah melahirkan gagasan saya tentang hidup di dalam kehidupan:
“Hidup itu artinya bergerak. Sedangkan kehidupan adalah keadaan. Maka hidup di dalam kehidupan adalah seni bergerak di dalam suatu keadaan”
“Bukan tentang mengendalikan segala sesuatu yang terjadi, melainkan tentang bagaimana kita hadir di dalamnya. Bukan tentang memilih keadaan yang selalu menyenangkan, melainkan tentang mengembangkan cara pandang yang memungkinkan kita tetap melihat keluasan hidup di balik setiap keadaan.”
Kita dapat meringkasnya sebagai: Keadaan terus bergerak bebas. Ia datang dan pergi sesuai hukumnya sendiri. Kitalah yang memberikan nama, makna, dan penilaian.
Setiap orang memiliki pilihan, setiap pilihan akan melahirkan konsekuensinya sendiri-sendiri dan jiwa kita akan mengalami konsekuensi tersebut secara langsung. Ada pilihan yang membuat jiwa kita lapang dan tercerahkan. Ada pula pilihan yang membuat jiwa ini semakin terikat dan terbelenggu.
Tulisan ini bakal membuka tabir untuk mengenal diri kita. Semuanya tergantung dari pilihan keputusan yang kita ambil.
sangat menari, dapat pencerahan nih kak