Membaca Arah Kehidupan

0
(0)

Penulis: Onie Surya
Editor: Aan Anugrah

Seperti yang saya katakan dalam memahami hidup di dalam kehidupan: yaitu bagaimana diri ini bergerak dalam suatu keadaan. 

Mari kita perjelas dengan sebuah analogi tentang refleksi dari dunia pesawat terbang tenaga karet yang saya geluti.

“Ketika sebuah pesawat bereaksi terpelanting ke kiri, apa yang harus dilakukan?”

Bagi seorang pemula, pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Ia melihat gejalanya, tetapi tidak memahami penyebabnya. Ia ingin memperbaiki keadaan, namun tidak tahu tindakan apa yang perlu dilakukan. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia belum memahami ilmu aerodinamika yang mendasari perilaku pesawat tersebut. 

Kejadian dalam kehidupan. 

Banyak orang menjalani hidup tanpa bekal pengetahuan tentang hidup itu sendiri. Mereka hidup, bekerja, berjuang, dan berharap, tetapi tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya maupun di sekelilingnya. Mereka belum tahu apa yang perlu dipersiapkan dalam kehidupan nyata. Mereka belum tahu bagaimana membaca keadaan, mengenali pola-pola yang sedang bekerja, dan menentukan respons yang tepat. 

  • Apakah saat ini mereka sedang dikuasai kecemasan terhadap masa depan? 
  • Apakah mereka sedang terobsesi oleh ambisi? 
  • Apakah mereka masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalu? 
  • Ataukah mereka sedang menyalahkan keadaan dan menghakimi diri sendiri? 

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang bakal menentukan kualitas hidup seseorang. 

Lebih jauh lagi: apakah seseorang sedang bereaksi ataukah merespons? 

Keduanya tampak mirip, namun sesungguhnya berbeda. 

  • Reaksi muncul secara otomatis, dan
  • Respon lahir dari kesadaran. 

Reaksi sering kali mengulang pola lama, sedangkan respons membuka kemungkinan baru. 

Karena itu, membaca kehidupan menjadi sangat penting. 

Apakah seseorang sedang mengulang kegagalan yang sama? Ataukah ia sedang bertumbuh melalui perbaikan-perbaikan kecil yang dilakukan? Apakah ia sedang terperosok pada kisah pergumulan atau justru terseret oleh gemerlap dunia yang membutakan? 

Sesekali seseorang mungkin memperoleh keberhasilan. Namun keberhasilan saja belum tentu menunjukkan bahwa ia memahami hidup. 

Bisa jadi keberhasilan itu terjadi karena kebetulan. Ia berhasil, tetapi tidak benar-benar mengerti mengapa ia berhasil. Ketika diminta menjelaskan prosesnya, ia kesulitan menguraikannya. 


Hal ini yang tadi saya maksud terjadi pada pemula penerbangan. Ia membuat dan pesawatnya pun terbang di udara.

Ia mengetahui hasilnya, tetapi tidak memahami hukum yang bekerja di balik hasil tersebut. 

Saat menerbangkan pesawat tenaga karet, saya sering bertanya kepada diri sendiri: 

“Andaikan saya mampu membaca kehidupan sebagaimana saya membaca perilaku pesawat, tentu saya akan lebih mudah menata hidup.”

Mengapa saya berpikir demikian?

Sebab saya melihat ada orang-orang yang sulit bangkit dari keterpurukannya. Mereka berjuang, mencoba berbagai cara, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun, namun seolah tetap berada di tempat yang sama. Bukan karena mereka tidak memiliki keinginan untuk berubah, melainkan karena mereka belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dan bagaimana meresponsnya dengan tepat.

Pemandangan itu seringkali mengingatkan saya pada seorang pemula dalam dunia pesawat terbang tenaga karet. Ketika pesawat tidak terbang sebagaimana mestinya, ia mulai mengubah setelan di sana-sini. Ia mencoba berbagai kemungkinan, tetapi tanpa pemahaman yang cukup tentang prinsip-prinsip yang bekerja di balik perilaku pesawat. Akibatnya, setiap perubahan justru melahirkan masalah baru, hingga pada akhirnya pesawat berulang kali jatuh dan berakhir di tong sampah.

Kehidupan pun sering kali berjalan demikian. Banyak orang berusaha memperbaiki hidupnya dengan mengubah berbagai hal di permukaan, tanpa terlebih dahulu memahami akar persoalan yang sedang dihadapi. Mereka terus bergerak, tetapi tidak benar-benar maju. Mereka terus mencoba, tetapi tidak sungguh-sungguh belajar membaca kehidupan.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa: kemampuan membaca keadaan lebih penting daripada sekadar bertindak. 

Sebab tindakan yang tepat lahir dari pemahaman yang tepat, sebagaimana seorang pilot dapat mengoreksi arah pesawat hanya setelah ia mengerti mengapa pesawat itu menyimpang.

Ketika pesawat bereaksi, saya mengamatinya. Saya membaca gejalanya, memahami penyebabnya, lalu melakukan koreksi melalui fungsi-fungsi kendali yang tersedia. Tidak lama kemudian hasilnya dapat terlihat. Pesawat kembali stabil dan terbang dengan indah di udara. 

Mengenal Prinsip Kehidupan 

Asumsi saya bahwa kehidupan pun seharusnya memiliki prinsip yang serupa. 

Namun waktu itu saya belum mampu menjawab bagaimana cara melihat hasil dari perbaikan yang dilakukan dalam hidup. Saya hanya memiliki keyakinan bahwa kehidupan tidak mungkin lebih sederhana daripada pesawat yang saya terbangkan. Tidak mungkin pula perbaikan yang dilakukan hari ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun sampai berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun kemudian. 

Kini saya mulai memahami, setiap kali saya melakukan evaluasi dan memperbaiki cara saya merespons kehidupan, tubuh dan jiwa segera memberikan umpan balik. Saya dapat merasakannya secara langsung. Apakah jiwa menjadi lebih lapang atau tetap tertekan. Apakah beban berkurang atau justru bertambah. Apakah tubuh menjadi rileks atau semakin banyak ketegangan.

Inilah indikator awal dari arah yang sedang ditempuh. 

Wujud yang dihadirkan membutuhkan waktu untuk terlihat, tetapi tubuh dan jiwa sering kali lebih dahulu memberikan petunjuk. 

Meski demikian, semuanya tidak sesederhana itu. 

Seorang pilot tidak hanya belajar mengendalikan pesawat saat terbang. Jauh sebelum pesawat mengudara, ia harus memahami berbagai prinsip yang memengaruhi penerbangan: keseimbangan, berat, tenaga, down thrust, bentang sayap, dan banyak faktor lainnya. 

Pemahaman atas seluruh aspek tersebut memungkinkan seorang pilot menjawab satu masalah dengan berbagai cara. 

Begitu pula dalam kehidupan. 

Ketika seseorang memiliki pemahaman yang luas tentang hidup, ia tidak terpaku pada satu jalan keluar. Ia mampu melihat banyak kemungkinan. Ia mampu menghadapi satu persoalan dengan berbagai pendekatan. Ia tidak mudah panik ketika keadaan berubah, karena ia memahami prinsip-prinsip yang bekerja di balik perubahan tersebut. 

Karena itulah saya menggunakan refleksi pesawat terbang tenaga karet. Bukan karena pesawat dan kehidupan adalah hal yang mirip, melainkan karena keduanya menunjukkan prinsip serupa: kemampuan bergerak dengan baik tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari pemahaman. 

Sampai disini saya merefleksikan bahwa pijakan hidup di dalam kehidupan adalah belajar memahami hukum-hukum yang bekerja di balik setiap keadaan, sehingga kita tidak lagi sekadar bereaksi terhadap hidup, melainkan mampu meresponsnya dengan sadar. 


Kata kunci:

  • Hidup adalah gerak.
  • Kehidupan adalah keadaan.
  • Persepsi menentukan cara seseorang bergerak.
  • Membaca kehidupan lebih penting daripada mengendalikan kehidupan.
  • Tubuh dan jiwa memberikan umpan balik yang lebih cepat daripada perwujudan kehendak.
  • Kebebasan lahir dari kemampuan merespons, bukan dari kemampuan mengatur keadaan.

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

Leave a comment