Pencapaian Setelah Satu Tahun: Rutin Jalan Kaki, Investasi Murah di Usia 40-an

Maret 2025 menjadi titik yang tidak aku rencanakan secara serius, tapi justru bertahan paling lama.

Hari pertama aku mulai jalan kaki lagi, tubuh langsung “protes”. Pegel di beberapa bagian, napas terasa ngos-ngosan bahkan untuk ritme yang dulu terasa biasa. Di usia yang menginjak 47 tahun, tubuh memang sudah tidak seringan usia 20–30-an.

Tapi anehnya, sejak awal aku tidak pernah benar-benar berpikir untuk berhenti.

Mungkin karena ini bukan lagi soal olahraga. Ini seperti membuka kembali sesuatu yang dulu pernah ada, tapi sempat hilang cukup lama.

Dari Bertahan Hidup ke Menikmati Hidup

Kalau ditarik ke belakang, sekitar tahun 2008 aku mulai akrab dengan jalan kaki dan hiking. Tapi waktu itu bukan karena hobi.

Aku melakukannya karena kebutuhan.

Mengantar tamu ke kebun, naik turun jalur dengan fee antara 100 ribu sampai 500 ribu per hari. Jauh lebih layak dibanding honor mengajar di Madrasah Aliyah waktu itu.

Aku bukan anak pecinta alam. Bahkan bisa dibilang, olahraga bukan bagian dari hidupku saat itu. Tapi keadaan memaksaku untuk belajar.

Dari situlah semuanya dimulai.

Namun setelah itu, aktivitas ini sempat vakum panjang. Di rentang 2015–2023, jalan kaki hanya sesekali. Tidak terukur. Tidak konsisten. Sekadar lewat.

Titik Balik yang Sederhana

Sampai suatu pagi di tahun 2025, aku melihat seseorang di Facebook.

Usianya sekitar 60-an, tapi rutin lari setiap hari tanpa jeda—running streak. Setelah aku telusuri, ternyata dia juga pernah berada di fase yang sama: kurang gerak, kelebihan berat badan, dan mulai merasakan dampak di usia 40–50-an.

Bedanya, dia mulai. Pelan-pelan. Dari jalan kaki.

Di situlah aku merasa: ini masuk akal.

Mengukur Langkah, Bukan Sekadar Niat

Aku mulai menggunakan Strava untuk mencatat aktivitas. Dari situ aku sadar, olahraga sekarang bukan hanya soal gerak, tapi juga soal kesadaran.

Berapa kilometer ditempuh. Berapa lama waktu berjalan. Bahkan sampai ke ritme tubuh.

Lalu aku memutuskan untuk investasi kecil: membeli smartwatch, Amazfit Active 2.

Bukan untuk gaya-gayaan. Tapi untuk mencatat. Untuk punya “jejak”.

Dan ternyata, itu penting.

400 Aktivitas dan Kebiasaan Baru

Dalam satu tahun, aku mencatat lebih dari 400 aktivitas.

Ada badge 5K, 10K, 50K walking consecutively, 10 days streak, dan lainnya. Bagi sebagian orang mungkin ini biasa. Tapi bagiku, ini seperti diary yang tidak bisa berbohong.

Aku tidak terlalu mengejar angka. Tapi aku punya aturan sederhana:

Minimal 30 menit jalan kaki. Tidak boleh kurang.

Pagi Hari: Membuka Pintu Energi

Sejak Maret 2025, jalan kaki bukan hanya rutinitas fisik. Ia menjadi semacam “pembuka pintu”.

Aku biasanya berjalan di antara jam 7 sampai 8 pagi. Tidak jauh, tidak cepat, tidak juga mengejar target berlebihan. Cukup 30 menit atau lebih sedikit.

Tubuh bergerak, napas mulai teratur, dan perlahan energi terkumpul.

Saat langkah mulai terasa ringan, justru tubuh mulai lelah dengan cara yang “baik”. Bukan lelah karena beban, tapi lelah karena digunakan sebagaimana mestinya.

Dan di situlah transisi terjadi.

Sekitar jam 9 pagi, saat IDX Composite mulai bergerak, aku sudah berada di rumah.

Bukan dalam kondisi terburu-buru. Tapi dalam kondisi siap.

Siang Hari: Mengelola Pikiran, Bukan Emosi

Waktu antara jam 9 sampai 12 siang adalah fase berikutnya.

Di sini aku melihat pasar, membaca pergerakan, dan mengambil keputusan sebagai investor.

Menariknya, jalan kaki di pagi hari seperti “menyaring” emosi sebelum masuk ke aktivitas ini.

Aku jadi tidak mudah reaktif. Tidak terburu-buru. Tidak juga terlalu tegang.

Seolah ada jarak antara diriku dan pasar.

Dan mungkin, di situlah letak nilai sebenarnya.

Bahwa keputusan finansial yang baik seringkali lahir dari kondisi batin yang tenang—bukan dari pikiran yang penuh tekanan.

Sore Hari: Menutup Hari dengan Refleksi

Tidak setiap hari berjalan sesuai rencana.

Ada hari di mana sesi pagi terlewat. Entah karena hujan, atau hal lain yang tidak bisa dihindari.

Tapi di situlah fleksibilitas menjadi bagian dari sistem.

Aku bisa menggantinya di sore hari, selepas jam 4 ketika pasar sudah tutup.

Sekitar satu jam berjalan, tanpa target, tanpa distraksi.

Ini bukan lagi soal membuka hari, tapi menutupnya.

Langkah demi langkah menjadi ruang refleksi:

  • Apa yang sudah aku lakukan hari ini?
  • Keputusan apa yang aku ambil?
  • Apa yang bisa diperbaiki?

Tidak selalu harus dijawab. Kadang cukup dipikirkan sambil berjalan.

Rute? Itu-itu saja. Sekitar perumahan.

Kalau hujan? Ya sudah, ditunda. Kadang diganti dengan ngopi.

Tidak ada yang dipaksakan. Tapi tetap berjalan.

Investasi yang Tidak Tercatat di Portofolio

Sebagai village investor, aku mulai melihat bahwa ada dua jenis investasi:

  1. Yang tercatat di portofolio — saham, dividen, angka-angka
  2. Yang tidak tercatat, tapi terasa — kesehatan, ketenangan, ritme hidup

Jalan kaki masuk ke kategori kedua.

Ia tidak menghasilkan uang secara langsung. Tapi ia menjaga “alat produksi” utama: tubuh dan pikiran.

Tanpa itu, semua strategi investasi akan kehilangan fondasinya.

Ritme Sederhana yang Saling Melengkapi

Pagi berjalan → tubuh siap
Siang mengelola pasar → pikiran bekerja
Sore berjalan → pikiran ditenangkan kembali

Siklus ini berulang.

Sederhana. Tapi justru di situlah kekuatannya.

Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang dipaksakan.

Tubuh yang Berubah, Pikiran yang Ikut Tenang

Perubahan paling terasa justru sederhana.

Betis mulai terasa lebih tebal. Lebih “terisi”. Aku juga jadi terbiasa memakai sepatu ke mana-mana.

Jumlah sepatu lari yang aku punya tidak banyak—hanya 4 pasang. Tapi aku rotasi. Supaya adil. Supaya awet.

Dulu, sepatu proper adalah kemewahan. Sekarang, aku lebih menghargainya.

Secara mental, ada rasa “kurang” kalau seminggu tidak jalan kaki. Bukan karena target, tapi karena kehilangan ruang untuk diam.

Di jalan itu, aku bisa merenung. Kadang mendengar podcast. Kadang hanya mendengar langkah sendiri.

Definisi “Cukup” yang Berubah

Yang paling menarik, jalan kaki ini mengubah cara pandangku tentang “cukup”.

Ini aktivitas yang tidak bisa dibeli.

Kamu bisa beli sepatu. Bisa beli smartwatch. Bisa beli headset. Tapi setelah itu, yang berjalan tetap dirimu sendiri.

Bahkan dibandingkan dengan pergi ke kafe atau mencoba tempat baru, jalan kaki tetap punya rasa yang berbeda. Lebih sunyi, tapi justru lebih penuh.

Dulu dan Sekarang

Dulu aku berjalan untuk bertahan hidup.

Sekarang aku berjalan untuk menikmati hidup.

Untuk Kamu yang Baru Mau Mulai

Kalau kamu sudah masuk usia 40 ke atas, mungkin ini waktu terbaik.

  • Tidak perlu aturan yang rumit.
  • Tidak perlu target yang tinggi.
  • Cukup keluar rumah. Luangkan 30 menit. Jalan saja.
  • Tidak penting sepatu apa yang kamu pakai. Tidak penting seberapa jauh kamu melangkah.
  • Yang penting: kamu mulai.

Karena pada akhirnya, yang menemani bukan jarak, tapi langkah itu sendiri.