Tahun ini usiaku 48 tahun. Usia yang bagi sebagian orang sudah dianggap matang untuk melihat kembali perjalanan hidup. Ketika melihat ke belakang, aku sadar bahwa pencapaianku mungkin tidak sebesar beberapa teman sekolah. Ada yang punya perusahaan sendiri, ada yang mempunyai karier menjanjikan, bahkan ada yang sudah mapan finansial dilihat dari rumah dan mobilnya. Namun di sisi lain, aku juga melihat diantaranya mereka masih berkutat dengan penghasilan yang minim dan belum menemukan karir yang pas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di titik ini aku berdiri di tengah-tengah. Tidak terlihat mentereng, tetapi juga tidak kekurangan. Pertanyaan yang mulai muncul dalam pikiranku di fase ini adalah satu hal sederhana:
How much is enough to make you happy?


Hidup dari Usaha Kecil
Aku dan istriku menjalankan usaha kecil secara online. Produk yang kami jual cukup variatif: cerutu, kopi, dan beberapa produk craft. Setiap hari selalu ada saja pesanan yang masuk. Kadang kecil, hanya puluhan ribu rupiah. Kadang ada hari tertentu yang menyenangkan karena tiba-tiba ada pesanan besar dari kustomer baru. Hal-hal seperti itu membuat ritme usaha kecil kami terasa dinamis.
Penghasilan kami jika dirata-rata sedikit di atas UMR. Namun bagi kami, usaha ini bukan sekadar soal angka. Ada fleksibilitas yang kami rasakan.
Terkadang Istriku membantu dalam proses packing dan penataan stok. Sementara aku biasanya mengambil stok cerutu dan craft dari produsennya. Naik motor untuk mengambil barang, tidak setiap hari, cukup sering untuk membuatku tetap bergerak.
Motor yang kupakai adalah Honda Supra X 125 keluaran lawas, motor cub yang terkenal irit bensin. Biaya transport adalah salah satu pengeluaran rutinku. Rata-rata setiap tiga hari sekali aku mengisi sekitar 25 ribu rupiah pertalite. Sisanya pengeluaran utama kami adalah listrik, air, internet, dan pulsa – karena hampir seluruh aktivitas usaha dilakukan secara online.
Untuk makan pun kami tidak terlalu berlebihan. Satu porsi makanan sekitar sepuluh ribu rupiah sudah cukup bagi kami. Jika dilihat dari gaya hidup kota besar, tergolong kehidupan seperti ini sederhana.
Hidup di Desa Membuat Angka “Cukup” Berbeda
Salah satu alasan mengapa aku merasa cukup adalah karena aku menyukai kehidupan desa. Di desa, banyak hal terasa lebih masuk akal. Harga makanan masih terjangkau. Lingkungan tidak terlalu dipenuhi dorongan konsumerisme masyarakat. Tidak banyak pembanding yang menonjol figur siapa yang lebih mapan atau mereka yang punya barang baru – toh di tempat kami tinggal hal itu bakal berlalu begitu saja.
Sebaliknya di kota besar, sering kali orang hidup dalam tekanan yang tidak terlihat. Ada rasa scarcity yang terus menerus: seolah-olah kita selalu kurang, selalu perlu membeli atau mencoba sesuatu yang lagi happening, atau bahkan mengejar standar tampilan tertentu, mulai dari fashion sampai gadget. Terlalu banyak opsi, saat kita ingin makan misalnya, banyak pilihan menu Fried chicken, Sea food, Mie pedas atau Coffee shop bertebaran di setiap sudut kota. Kita diundang untuk mencicipi itu semua, alih-alih perjalanan rasa dan suasana baru – ini juga kelamaan akan menjadi standar tertentu yang melekat (normalisasi).
Di desa, opsi itu lebih sempit, kedengarannya membosankan – ya memang begitulah kondisinya. Mungkin karena itu aku merasa bahwa konsep “enough” sebenarnya bukan hanya soal uang. Ia juga soal pilihan tempat kita hidup dan bagaimana kita menempatkannya dalam batasan. Angka yang dianggap cukup di kota sangat berbeda ketika seseorang hidup di desa.
Titik Balik: Mengenal Dunia Investasi Saham
Sekitar lima tahun terakhir, hidupku berubah ketika aku mulai serius mempelajari investasi saham. Ketika aku dihadapkan pada kondisi untuk menyisihkan pendapatan ke bentuk portfolio, sesuatu yang tak berwujud – hanya deretan nominal pada laporan berbentuk file pdf. Tak ada sesuatu yang nampak dari luar, penampilanku tetap sama, suka kaos polos polo dan celana quick-dry – smartphone masih di seri yang sama selama 4 tahun, ditambah iPhone bekas sebagai secondary device.
Dari dunia saham, dan beberapa kajian finansial dan filosofis, aku diperkenalkan dua istilah yang sebelumnya sering tercampur dalam pikiranku: Rich dan Wealthy.
Banyak orang ingin terlihat kaya dengan membeli barang fungsional yang keren, upgrade kendaraan, atau melakukan perjalanan religi – ini semua sudah menunjukkan Rich seseorang. Jadi setiap ada kemampuan untuk membeli, membelanjakan, atau mengalokasikan ke sesuatu tertentu, seorang memiliki sifat rich.
Namun dalam dunia investasi, aku mulai memahami bahwa yang lebih penting adalah menjadi Wealthy.
Wealthy bukan tentang menunjukkan sesuatu kepada orang lain. Wealthy adalah kondisi ketika seseorang memiliki cukup aset untuk membuat hidupnya stabil dan tidak diliputi rasa kekurangan bahkan justru aset yang terkumpul dapat menghilangkan kecemasan.
Sejak saat itu aku dapat membedakan dan tidak lagi terlalu gamang tentang arti kekayaan. Aku tidak lagi merasa harus mengejar simbol-simbol tertentu untuk merasa berhasil.
Bagiku, wealthy berarti tiga hal:
- uang yang cukup
- badan bergerak
- hati yang tidak khawatir
Kebahagiaan Kecil Bernama Dividen
Salah satu momen yang paling menyenangkan setiap tahun adalah ketika musim dividen datang. Biasanya sekitar bulan Maret hingga pertengahan tahun, emiten bertumbuh dalam watchlist pasti mulai membagikan keuntungan kepada pemegang saham.
Mungkin bagi sebagian orang angka dividen yang kuterima tidak terlalu besar. Tetapi bagi diriku, momen itu terasa seperti hadiah dari kesabaran. Ada rasa harapan dan kelegahan muncul ketika musim dividen tiba.
Seperti menunggu panen kecil dari pohon yang kita tanam tahun sebelumnya. Setiap kali melihat dividen masuk ke rekening, aku merasa bahwa perjalanan kecilku di dunia investasi tidak sia-sia. Alhamdulillah.
Target yang Sangat Sederhana
Banyak orang punya target finansial yang sangat besar. Miliaran rupiah, kebebasan finansial di usia muda, atau pensiun dini.
Targetku jauh lebih sederhana. Aku hanya ingin mencapai dividen sekitar 12 juta rupiah per tahun.
Angka itu mungkin tidak spektakuler. Namun bagiku angka tersebut adalah batasan cukup. Itu adalah tanda bahwa portofolio investasi yang kubangun mulai bekerja sesuai estimasi.
Istriku juga memiliki penghasilan yang mirip denganku karena kami bekerja di bidang usaha yang sama. Jika kami berdua terus konsisten menabung dan berinvestasi, maka perlahan-lahan kami bisa memperkuat fondasi keuangan kami.
Tidak cepat. Tetapi stabil.
Tentang Spiritualitas yang Bersifat Privat
Dalam hidupku, spiritualitas adalah sesuatu yang sangat pribadi. Aku percaya bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak selalu perlu ditunjukkan kepada orang lain. Aku tidak merasa perlu menunjukkan bahwa aku rajin beribadah atau berada dalam circle yang religius, dimana terbatas pada soal dakwah ibadah dan tuntunanya.
Bagiku, spiritualitas adalah dialog yang tenang antara diriku dan Allah. Ia tidak perlu dipamerkan. Ia tidak perlu menjadi identitas sosial. Justru karena bersifat pribadi, spiritualitas menjadi lebih jujur.
Filsafat Stoik juga mengatakan – disitulah aku menemukan ketenangan yang membantu memahami arti kata cukup.
Menghapus Kekhawatiran yang Tidak Perlu
Seiring waktu aku mulai belajar satu hal penting. Ada banyak hal dalam hidup yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Misalnya:
- belum memiliki anak
- kendaraan yang suatu hari perlu diganti
- rencana ibadah tertentu seperti umroh
- ada masalah kesehatan yang tak kunjung sembuh
Semua hal itu kadang bisa menjadi sumber kekhawatiran. Namun aku mencoba untuk mengurangi rasa khawatir tersebut, karena aku sadar bahwa tidak semua hal harus dipaksakan dan dipersulit.
Ada bagian hidup yang bisa kita usahakan dan ada bagian yang di luar kontrol kita yaitu takdir.
Ketika kesadaran ini muncul, hidup terasa jauh lebih ringan.
Jika Penghasilan Meningkat
Aku pernah bertanya pada diriku sendiri: Apa yang akan terjadi jika suatu hari penghasilanku meningkat jauh lebih besar?
Jawabannya ternyata sederhana, “Aku tidak terlalu ingin mengubah gaya hidupku secara drastis.”
Hal yang justru membuatku senang adalah jika penghasilan tambahan itu bisa menjadi buffer untuk memperbesar investasi. Artinya, aku bisa membeli lebih banyak lembar saham.
Dengan begitu, potensi dividen di masa depan juga meningkat.
Ini seperti menanam lebih banyak pohon. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dipanen perlahan.
Usaha Kecil yang Tidak Akan Hilang
Walaupun investasi saham menjadi bagian penting dari hidupku, aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan usaha kecil yang sudah kami jalankan.
Cerutu, kopi, dan produk craft tetap menjadi bagian dari kehidupanku.
Aku sudah menemukan sumbernya. Aku sudah memahami ritmenya.
Dan yang paling penting, usaha kecil itu memberikan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh investasi finansial: koneksi dengan kehidupan nyata.
Ada proses mengambil barang, mengemas pesanan, dan berinteraksi dengan pelanggan.
Sektor riil membuat hidup tetap nyata.
Enough Is a Quiet Life
Jika seseorang bertanya kepadaku sekarang:
“How much is enough to make you happy?”
Aku tak akan langsung menjawab dengan angka dan deskripsi, ini semua soal pilihan hidup dan preferensi.
Ketika aku katakan target finansial dividen 12 juta per tahun, itu relatif dengan orang lain.
Namun lebih dari itu, kata kuncinya bagiku berarti:
- dapat membiayai diri sendiri
- hidup tanpa kredit konsumtif
- memiliki usaha kecil yang stabil
- memiliki investasi yang tumbuh perlahan
- tinggal di lingkungan kondusif minim konsumerisme
- dan menjalani hari tanpa rasa takut akan kekurangan
Cukup bukanlah angka yang besar.
Cukup adalah kehidupan yang tenang.
Menemukan Definisi Sendiri
Setiap orang tentu memiliki definisi “cukup” yang berbeda. Bagiku, cukup adalah kehidupan sederhana yang stabil.
Sebuah kehidupan di mana aku bisa bekerja dengan ritme yang tenang, menikmati secangkir kopi dan cerutu, menjalankan usaha kecil, dan melihat portofolio investasiku bertumbuh perlahan.
- Tidak terburu-buru / slow living
- Tidak perlu terlihat hebat di mata orang lain / down to earth
- Hanya cukup / minimalism
Refleksi: Menemukan Arti Cukup
Mungkin pada akhirnya hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, atau seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Hidup lebih sering tentang bagaimana kita berjalan dengan tenang sambil memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan. Di usia yang tidak lagi muda, aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar, tetapi dari kemampuan menerima bahwa hidup sudah cukup baik seperti adanya. Usaha kecil yang tetap berjalan, portofolio saham yang tumbuh perlahan, perjalanan sederhana bersama istri, dan hari-hari yang tidak dipenuhi rasa khawatir—semua itu perlahan membentuk definisi kemakmuran / wealthy yang berbeda.
Kisah ini tidak spektakuler, jika ada sesuatu yang bisa dibagikan kepada mereka yang berada di rentang usia yang sama denganku, maka pesannya sederhana:
Tidak ada kata terlambat untuk menata kembali tujuan hidup, menyederhanakan keinginan, dan melepaskan sebagian kekhawatiran tentang apa yang belum kita miliki. Karena pada akhirnya, kekayaan yang paling berarti sering kali bukan yang terlihat oleh orang lain, melainkan ketenangan yang kita rasakan di dalam diri sendiri.
16 Maret 2026